Minggu, 18 Mei 2008

TANAMAN HIAS


Aglonema Berlafal Allah Bikin Geger, Ditawar Rp 5 Juta


Lafal Allah ada di daun terbesar


Sidoarjo - Rumah pasangan suami istri Susilo Hadi (44) dan Supramesti Bibit Rahayu (40) di Jl Brigjen Katamso Gang I/122, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, dua hari ini dipenuhi tamu. Para tamu penasaran ingin melihat tanaman aglonema yang bertuliskan lafal Allah.
Aglonema yang tidak diketahui jenisnya itu dibeli pasangan ini 7 hari lalu seharga Rp 300 ribu. Dan gara-gara ada tulisan lafal Allah dalam huruf Arab di dua daunnya, aglonema itu ditawar Rp 3 juta oleh seorang kerabatnya. Kerabat yang lain bahkan berani membeli Rp 5 juta!
"Wah eman (sayang), soalnya baru dibeli 7 hari lalu," tolak pasangan ini saat ditemui detikcom di kediamannya, Rabu (9/5/2007).
Aglonema berlafal Allah itu didapat Susilo dan istri saat keduanya tengah menghadiri pameran aglonema di hipermarket Giant di Jl A Yani, Surabaya. Saat itu kolektor aglonema ini berkeliling dan tiba-tiba menemukan aglonema yang aneh. Si penjual tidak tahu aglonema itu jenis apa.
Kalau aglonema pada umumnya daunnya identik dengan warna hijau bersemu merah, hijau semu putih, dan batangnya juga hijau, aglonema yang satu ini agak beda. Batang tumbuhan setinggi 20 cm ini berwarna merah, daun berwarna hijau tua dan ada bercak hijau muda di atasnya.
Aglonema itu dilepas Rp 300 ribu. Susilo menawar Rp 200 ribu tapi tidak diberi. Akhirnya Susilo dan istri pergi. Mereka makan-makan. Tetapi ingatan sang istri tetap tertuju pada aglonema itu dan mengusulkan agar suaminya tetap membeli aglonema aneh itu.
Jadilah aglonema itu dibeli dengan harga Rp 300 ribu. Aglonema itu dibawa pulang dan ditempatkan di pot yang bagus.
Pada Selasa 8 2007 pukul 21.00 WIB, Supramesti meminta suaminya agar memindahkan 30 pot duduk tanaman aglonema yang ada di halaman ke dalam rumah. Di antara pot itu ada aglonema aneh.
Saat hendak memindahkan pot-pot itu, Susilo berteriak. "Ma, kok ini kayak ada tulisannya Allah." Istrinya segera datang dan membenarkan pendapat suaminya. Tetangga juga diundang datang. Malam itu rumah Susilo agak heboh. Kerabat juga datang. Mereka membenarkan ada tulisan lafal Allah di daun aglonema tersebut.
Tulisan lafal Allah ada di dua daun. Yang satu terletak di ujung daun, sedangkan satunya di tengah daun.
"Yo wis tak tuku Rp 3 juta (ya sudah kubeli Rp 3 juta)," kata Prayit, salah seorang kerabat Susilo. Saudara lainnya menawar Rp 5 juta. Tapi Susilo menggelengkan kepala. Dia ingin memelihara tanaman itu baik-baik. Pot aglonema itu diganti lagi dengan pot yang lebih bagus dan diberi kerikil di atasnya.
Hingga kini tamu yang ingin melihat aglonema Susilo masih mengalir. arsip by detik.com

TANAMAN HIAS


AGLONEMA, SI ANGGUN YANG KAYA WARNA


Setelah sukses disilangkan, banyak orang yang kini melirik tanaman satu ini. Warna daunnya menawan. Harganya pun langsung melejit ke angka jutaan rupiah per tanaman.
Tanaman aglonema atau akrab disebut sri rejeki ini memiliki ragam spesies yang cukup banyak. Sebut saja Aglaonema Commutatum, yang bentuk daunnya seperti mata tombak dan berwarna hijau, dengan panjang daun sekitar 20 cm dan lebar 5 cm. Jenis aglonema ini mempunyai beberapa varietas terkenal, antara lain A. commutatum maculatum. Daunnya hijau gelap dengan sirip-sirip keperakan yang temaram. Juga A. commutatum treubi, berdaun hijau kebiru-biruan, lalu A. pseudo bracteatum, yang berdaun hijau dengan sirip kekuningan. Ada pula Aglaonema costatum, yang bentuk daunnya mirip "hati", berwarna hijau bersinar dengan bintik-bintik putih. Dikenal pula A. crispum, warna daun agak kelabu dengan tepi hijau lunak. Yang tak kalah menarik adalah A. rotundum, bernenek moyang dari hutan-hutan di Sumatera, dengan ciri khas daunnya berwarna merah gelap dengan garis-garis merah marun.


TAK TAHAN KERING Agar aglonema yang anggun ini tampil menawan, perhatikan syarat hidupnya. Antara lain tempatnya teduh (lebih baik jika diberi naungan), hindari matahari secara langsung, serta tempat tanam memiliki sirkulasi udara bagus. Yang penting, media tanamnya harus porous. Anda bisa memakai humus daun dan pasir, dengan perbandingan 3 : 1. Atau campuran antara sekam (4 bagian), cocopeat (1 bagian) dan pasir (1 bagian). Perhatikan sekamnya. Pilih yang masih utuh, bukan sekam yang sudah hancur lembut. Bisa pula menggunakan media tanam campuran sabut kelapa giling halus, humus, dan pupuk kandang (1 : 1 : 1).
Setelah itu, masukkan media tanam ke dalam pot sampai tigaperempat bagian. Sebelumnya, dasar pot diberi pecahan genting atau bata merah. Tambahkan pupuk slow release, misalnya Dekastar, sebanyak 1 sendok teh. Kemudian masukkan bibit aglonema tegak tepat di tengah pot. Tambahkan media tanamnya sampai penuh, kemudian siram dan letakkan di tempat teduh. Yang harus diingat, aglonema tidak tahan kering. Jadi, lakukan penyiraman setiap hari. Kecuali bila medianya dicampur sabut kelapa, penyiraman bisa 2 - 3 hari sekali.
Pemupukan slow release diberikan lagi setiap 3 bulan sekali. Ada baiknya diberi pupuk daun, misalnya Vitablum, setiap 2 - 3 minggu sekali. Waspadalah terhadap serangan hama penggerek batang. Ia bisa meludeskan akar tanaman, sehingga tanaman harus dibongkar. Bagian yang terserang dibuang, ulatnya dibunuh. Ada baiknya lakukan penyemprotan pestisida secara rutin sebulan sekali.
Jika Anda pingin daun-daun aglonema tampil kinclong, bersihkan daun-daun itu dengan air bersih. Lalu, daun-daun tersebut dilap dengan cairan susu bubuk, atau bisa juga air susu segar. Dijamin daun-daun aglonema pun indah mengkilap.


PENYILANGAN SENDIRI Daya pikat aglonema memang pada daunnya. Layaklah jika ia sering dipakai sebagai tanaman indoor yang betah sampai seminggu. Ketika tanaman sudah tua, keluarlah bunga. Dari bunga inilah, dilakukan penyilangan.
Anda bisa, kok, mencoba menyilangkan sendiri aglonema. Terserah, jenis apa yang hendak disilangkan. Mana yang dijadikan induk betina, mana pula yang jadi induk pejantan, semuanya pun terserah Anda. Siapa tahu, dari main-main, Anda bisa menghasilkan aglonema yang unik. Yuk, kita coba!
1. Amati benar ketika bunga-bunga aglonema mulai bermekaran. Misalnya aglonema "X." Lihatlah bagian tongkol bunga, apakah terdapat serbuk (mirip bedak)? Bila ada, berarti serbuk sari dijadikan induk pejantan. Perhatikan pula bagian bawah tongkol bunga aglonema "Y" yang nantinya dijadikan induk betina.
2. Ambil kuas bersih untuk mengambil serbuk sari, lantas oleskan merata pada putiknya. Setelah itu tanaman yang sudah diserbuk dikerudungi kantong plastik. Ini agar lebih aman, sekaligus menjaga kelembapannya.
3. Waktu penyilangan sebaiknya pagi hari sekitar pukul 7 - 9. Jika terlalu siang, biasanya serbuk sari sudah pada rontok.
4. Penyilangan berhasil bila terbentuk buah. Satu tongkol dapat menghasilkan sekitar 10 - 30 buah. Sedangkan seludang bunga lainnya biasanya mengering.
5. Tunggu kira-kira 6 bulan, ketika buah itu dapat dipetik. Kemudian seleksi untuk mendapatkan buah yang siap tanam.


SANG PERAIH EMAS Namanya seindah pemiliknya: Pride of Sumatera. Ia merupakan salah satu jenis aglonema silangan. Nama dagangnya Red Sumatera dan pernah meraih medali emas di ajang lomba tanaman hias di Belanda. Sang penyilang adalah Gregori Hambali, yang sejak awal tahun 1980-an tekun menyilangkan Aglaonema rotundum sebagai induk jantan dengan Aglaonema commutatum tricolour sebagai induk betina. Ciri khas Pride of Sumatera antara lain permukaan bawah daunnya berwarna merah semarak, sementara permukaan atas daunnya hijau tua mengkilap. Bentuk daun memanjang dengan ujung meruncing, dan tulang daunnya merah menyala.
Selain Red Sumatera, hasil silangan Greg yang lain adalah Aglaonema Shinta, Srikandi, Aglaonema Diana (mengingatkan kecantikan Lady Diana), Aglaonema Juliet (terinspirasi romantika Romeo dan Juliet), dan Aglaonema Widuri. Kini, banyak orang yang mencoba melakukan penyilangan sendiri. Tak heran jika di pasaran terlihat warna-warni aglonema dengan harga yang cukup tinggi.


DICANGKOK PUN BISA Apa yang bisa Anda lakukan jika tak betah menunggu anakan yang terlalu lama? Cobalah "mencangkok" sendiri. Caranya?
1. Amati dan pilih batang aglonema yang cukup panjang. Bersihkan beberapa pelepah daun yang sudah tua. 2. Siapkan botol plastik bekas. Potong leher botol, lalu buat sayatan dari atas sampai bawah. Bagian dasar botol diberi lubang, kira-kira sebesar batang aglaonema. 3. Pasang botol tersebut pada batang aglonema. Isilah dengan media tanamnya berupa cocopeat dan humus (1:1). Ikatlah erat-erat botol itu. 4. Rajinlah menyiram. Usahakan jangan sampai media dalam botol menjadi kering. 5. Kira-kira sebulan kemudian, muncullah tunas-tunas. Tunggu hingga akar-akarnya makin kuat. 6. Setelah umur 3 bulan, bukalah botol, lalu bersihkan media. 7. Ambil pisau tajam untuk memisahkan tunas-tunas anakan. Ini berarti, Anda sudah memiliki beberapa bibit baru. 8. Rendam bibit-bibit tersebut dalam larutan fungisida selama sekitar 10 menit sebelum kemudian ditanam dalam pot. Gampang, kan?